Senin, 01 Februari 2021

Proses Penelitian, Masalah, Variabel dan Paradigma Penelitian

Assalamu'alaikum teman-teman..

Selamat datang diblog aku, di blog sebelumnya aku sudah membahas tentang pasar modal, kemudian aku sudah meriview buku tentang pasar modal, nah kali ini aku mau menjelaskan tentang "Proses Penelitian, Masalah, Variabel dan Paradigma Penelitian".

Yuk disimak teman teman, semoga ini bisa membantu kalian yaa..

A. Proses Penelitian Kuantitatif Survei

   Salah satu metode penelitian kuantitatif adalah metode survei. Banyak para ahli yang mengemukakan pendapatnya tentang metode penelitian survei. Salah satunya yaitu menurut pendapat dari Neuman W Lawrence (2003) menyatakan:

"Survey are quantitative beasth. The survey ask many people (call respondent) about their belief, opinions, characteristic, and past or present behavior. Survey are appropriate for research questions about self reported belief or behavior"

Penelitian survei adalah penelitian kuantitatif. Dalam penelitian survei, peneliti menanyakan ke beberapa orang (yang disebut dengan responden) tentang keyakinan, pendapat, karakteristik suatu obyek dan perilaku yang telah lalu atau sekarang. Penelitian survei berkenaan dengan pertanyaan tentang keyakinan dan perilaku dirinya sendiri.

Berdasarkan kutipan tersebut dapat dikemukakan di sini bahwa metode penelitian survei adalah penelitian kuantitatif yang digunakan untuk mendapatkan data yang terjadi pada masa lampau atau saat ini, tentang keyakinan, pendapat, karakteristik, perilaku, hubungan variabel dan untuk menguji beberapa hipotesis tentang variabel sosiologis dan psikologis dari sampel yang diambil dari populasi tertentu, teknik pengumpulan data dengan pengamatan (wawancara atau kuisioner) yang tidak mendalam, dan hasil penelitian cenderung untuk digeneralisasikan.

Jadi dalam penelitian survei bisa bersifat deskriptif, komparatif, asosiatif, komparatif asosiatif, dan hubungan struktural (Path analysis/hubungan jalur, dan persamaan struktural/Structure Equation Model/SEM.

   Proses penelitian kuantitatif dan kualitatif berbeda. Dalam penelitian kuantitatif, masalah yang dibawa oleh peneliti harus sudah jelas, sedangkan dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah memasuki lapangan.

Berikut proses kuantitatif akan terwujud dalam. Setelah masalah diidentifikasikan, dan dasar, maka selanjutnya masalah tersebut dirumuskan. Rumusan masalah pada umumnya dinyatakan dalam kalimat pernyataan. Denan ini maka akan dapat memandu peneliti untuk kegiatan penelitian selanjutnya. Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka peneliti menggunakan berbagai teori untuk menjawabnya. Jadi teori dalam penelitian kuantitatif ini digunakan untuk menjawab rumusan masalah penelitian tersebut. Jawaban terhadap rumusan masalah yang baru menggunakan teori tersebut dinamakan hipotetis, maka hipotesis dapat diartikan sebagai jawaban terhadap rumusan masalah penelitian.

Selanjutnya hipoteteis yang merupakan jawaban sementara, akan dibuktikan kebenarannya secara empiris/nyata. Untuk itu peneliti melakukan studi data dilakukan pada populasi tertentu yang ditentukan oleh peneliti. Bila populasi terlalu lus, sedangkan peneliti memiliki keterbatasan waktu, dana dan tenaga, maka peneliti dapat menggunakana sampel yang diambil dari populasi tersebut. Bila peneliti membuat generalisasi, maka sampel yang diambil harus representatif, dengan teknik random sampling.

Meneliti adalah mencari data yang teliti / akurat. Untuk peneliti perlu menggunakan instrumen penelitian. Dalam ilmu-ilmu, teknik, dan ilmu-ilmu empirik lainnya, instrumen penelitian seperti termometer untuk mengukur suhu, timbangan untuk mengukur berat semuanya sudah ada, hingga tidak perlu membuat instrumen. Tetapi dalam penelian sosial, sering instrumen yang akan digunakan untuk meneliti belum ada, sehingga peneliti harus membuat atau mengembangkan sendiri. Agar instrumen tidak dipercaya, maka harus diuji validitas dan relibilitasnya.

Setelah instrumen teruji validitas dan rebilitasnya, maka dapat digunakan untuk mengukur variabel yang telah ditetapkan untuk diteliti. Instrumen untuk mengumpulkan data dapat berbentuk tes dan tidak dapat digunakan sebagai kuesioner, observasi dan wawancara. Dengan demikian teknik, data selain berupa tes dalam penelitian ini dapat berupa kuesioner, observasi dan wawancara.

Data yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis untuk menjawab rumusan masalah dan hipotesis yang diajukan. Dalam penelitain kuantitatif analisis data menggunakan statistik. Statistik yang digunakan dapat berupa statistik deskriptif dan inferensial/induktif. Statistik inferensial dapat berupa statistik parametris dan statistik nonparametris. Peneliti menggunakan statistik inferensial bila peneliti dilakukan pada sampel yang diambil secara acak / acak.

Data hasil analisis selanjutnya disajikan dan diberikan pembahasan. Penyajian DAPAT menggnakan tabel, tabel Distribusi Frekuensi, Grafik Garis, Grafik batang, piechart (diagram Lingkaran) Dan pictogram.

Selanjutnya jawaban jawaban singkat terhadap setiap rumusan masalah berdasarkan data yang telah terkumpul. Jadi kalau rumusan masalah ada kesimpulannya pun ada lima. Karena penelitian melakukan penelitian bertujuan untuk memahkan masalah, maka peneliti berkewajiban untuk memberikan saran-saran. Melalui saran-saran tersebut diharapkan masalah dapat dipecahkan. Saran yang diberikan harus berdasarkan hasil penelitian. Jadi, jangan membuat sarann ​​yang tidak berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan.


B. Masalah

  Pada penelitian itu dilakukan dengan tujuan mendapatkan data yang antara lain dapat digunakan untuk memecahkan masalah. Maka setiap penelitian yang akan dilakukan harus selalu berawal dari masalah. Bila dalam penelitian telah dapat menemukan masalah yang betul-betul masalah, maka sebenarnya pekerjaan peneliti itu 50% telah selesai. Oleh karena itu menemukan maalah dalam penelitian merupakan pekerjaan yang tidak mudah, tetapi setelah masalah dapat ditemukan maka pekerjaan penelitian akan segera dapat dilakukan.

1. Sumber Masalah

Masalah dapat diartikan sebagai penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi, antara teori dengan praktek, antara aturan dengan pelaksanaan, rencana pelaksanaan.

  • Terdapat penyimpangan antara pengalaman dengan kenyataan: Di dunia ini yang tetap hanya perubahan, namun sering perubahan itu tidak diharapkan oleh orang-orang tertentu, karena akan menimbulkan masalah. 
  • Terdapat penyimpangan antara apa yang telah direncanakan dengan kenyataan: Suatu rencana yang direncanakan, tetapi hasilnya tidak sesuai dengan rencana tersebut, maka tentu ada masalah. Jadi untuk menemukan masalah dapat diperoleh dengan cara melihat dari adanya penyimpangan antara yang direncanakan dengan informasi.
  • Ada pengaduan: Dalam suatu organisasi yang dikemukakan, tidak ada masalah, ternyata setelah ada pihak yang mengadukan produk atau pelayanan yang diberikan, maka timbullah masalah dalam organisasi. Dengan demikian masalah penelitian dapat digali dengan cara menganalisis isi pengaduan.
  • Ada kompetisi: Adanya kompetisi atau saingan sering dapat menimbulkan masalah besar, bila tidak dapat memanfaatkan untuk kerja sama.


C. Rumusan Masalah

 Rumusan masalah berbeda dengan masalah. Masalah isyarat itu antara yang diharapkan dengan apa yang terjadi, maka rumusan masalah merupakan suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui data.

1. Bentuk-bentuk Rumusan Masalah Penelitian

Bentuk-bentuk rumusan masalah penelitian ini berdasarkan pada penelitian menurut tingkat eksplantasi. Di bawah ini dapat di kelompokan ke dalam bentuk masalah, di antaranya:

  • Rumusan Masalah Deskriptif

Rumusan masalah deskriptif adalah suatu masalah yang berkenan dengan pertanyaan tentang keberadaan variabel mandiri, baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel yang berdiri sendiri). Jadi dalam penelitian ini tidak membuat perbandingan variabel itu pada sampel yang lain, dan menari variabel hubungan itu dengan variabel yang lain.

  • Rumusan Masalah Komparatif

Rumusan masalah komparatif adalah rumusan maslah yang menyelidiki keberadaan variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda, atau pada waktu yang berbeda.

  • Rumusan Masalah Assosiatif

Rumusan Masalah assosiatif adalah suatu rumusan masalah penelitian yang menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih. Ada bentuk hubungan yaitu: hubungan simetris, hubungan kausal, dan interaktif / resiprocal / timbal balik:

1) Hubungan Simetris

Hubungan simetris adalah suatu hubungan antara variabel dua atau lebih yang Kebetulan kecerdasan bersama. Jadi bukan hubungan kausal atau interaktif, contoh rumusan yang menangani:

a) Adakah hubungan antara banyaknya bunyi burung prenjak dengan tamu yang datang? Hal ini bukan berarti yang menyebabkan tamu datang adalah bunyi burung. (di pedesaan Jawa Tengah ada kepercayaan kalau di depan rumah ada bunyi burung Prenjak, maka stasiun akan ada tamu, di Jawa Barat, kupu-kupu dan tamu).

b) Adakah hubungan antara banyaknya semut di pohon dengan tingkat manisnya buah?

c) Adakah hubungan antara warna rambut dengan kemampuan memimpin?

d) Adakah hubungan antara jumlah payung yang terjual dengan jumlah kejahatan?

e) Adakah hubungan antara banyaknya radio dipedesaan dengan sepatu yang dibeli?

Contoh judul penelitian:

(a) Hubungan antara banyaknya radio dipedesaan dengan jumlah sepatu yang terjual

(b) Hubungan antara tinggi badan denga prestasi kerja di bidang pemasaran

(c) Hubungan antara payung yang terjual dengan tingkat kejahatan

2) Hubungan Kausal

Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab akibat. Jadi disini ada variabel independen (variabel yang mempengaruhi) dan dependen (variabel yang diinformasikan), contoh:

a) Adakah pengaruh sistem penggajian terhadap prestasi kerja?

Contoh judul penelitian:

(a) Pengaruh intensif terhadap disiplin kerja karyawan di departemen X.

3) Hubungan Interaktif/Resiprocal /Timbal balik

Hubungan interaktif adalah hubungan yang saling mempengaruhi. Di sini tidak diketahui mana variabel independen dan dependen, contoh:

a) Hubungan antara motivasi dan prestasi. Disini dapat menyatakan motivasi mempengaruhi prestasi dan juga prestasi mempengaruhi motivasi.


D. Variabel Penelitian

1. Pengertian

Kata "variabel" hanya ada pada penelitian kuantitatif, karena penelitian kuantitatif berpandangan bahwa, suatu gejala dapat diklasifikasikan menjadi variabel-variabel. Variabel penelitian pada kenyataan adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditentukan oleh peneliti untuk diketahui sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian berasal dari kesimpulannya.

2. Macam-macam Variabel

Menurut hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain, maka macam-macam variabel penelitian yaitu:

  • Variabel Independen: Variabel ini disebut variabel stimulus, prediktor, anteseden. Dalam bahasa indonesia disebut sebagai variabel bebas. Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi perubahan sebabnya atau timbulnya variabel dependen (terikat).
  • Variabel dependen: Variabel dependen disebut juga variabel output, kriteria, konsekuen. Dalam bahasa indonesia disebut variabel. Variabel yang terikat pada variabel yang merupakan akibat dari akibat, karena variabel bebas.

Gambar: Contoh Hubungan Variabel Independen-Dependen

  • Variabel Moderator: Variabel moderator adalah variabel yang mempengaruhi (meningkatkan atau memperlemah) hubungan antara variabel independen dengan dependen.

Gambar: Contoh Hubungan Variabel Independen-Moderator, Dependen

  • Variabel Intervening: Menurut Tuckman (1988), “Variabel intervening adalah variabel yang mempengaruhi hubungan antara variabel independen dengan dependen, tetapi tidak dapat diamati dan diukur”. Variabel ini adalah variabel penyela / antara yang terletak dianatara variabel independen dan dependen, sehingga variabel independen tidak dapat mempengaruhi perubahannya atau timbulnya variabel dependen.

Gambar: Contoh Hubungan Variabel Independen-Moderator-Intervening, Dependen

  • Variabel kontrol: Variabel kontrol adalah variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan hubungan variabel independen terhadap ketergantungan tidak dapat diandalkan oleh faktor luar yang tidak diteliti. Variabel kontrol sering digunakan, bila akan melakukan penilitian yang membandingkan, melalui penelitian eksperimen.

Gambar: Contoh Hubungan Variabel Independen-Kontrol, Dependen


E. Paradigma Penelitian (Model Hubungan Antar Variabel)

Pola hubungan antara variabel yang akan diteliti tersebut selanjutnya sebagai paradigma penelitian. Jadi dalam hal ini diartikan sebagai pola pikir yang menunjukkan hubungan antara variabel yang akan diteliti yang mencerminkan jenis dan jumlah rumusan masalah yang perlu dijawab melalui penelitian, teori yang digunakan untuk merumuskan hipotesis, jenis dan jumlah hipotesis, dan teknik statistik yang akan digunakan.

  1. Model Hubungan Sederhana: Dalam model ini terdiri atas satu variabel independen dan dependen.
  2. Model Hubungan Variabel Sederhana Berurutan: Dalam model ini terdapat lebih dari dua variabel, namun hubungannya masih sederhana.
  3. Model Hubungan Variabel Ganda dengan Dua Variabel Independen: Dalam model ini terdapat dua variabel independen dan satu dependen. Dalam paradigma ini terdapat 3 rumusan masalah deskriptif, dan 4 rumusan masalah assosiatif (3 kolerasi sederhana dan 1 kolerasi ganda).
  4. Model Hubungan Variabel Ganda dengan Tiga Variabel Independen: Dalam model ini terdapat tiga variabel independen dan satu dependen. Rumusan masalah assosiatif (hubungan) untuk yang sederhana ada 6 dan yang ganda minimal 1.
  5. Model Hubungan Variabel Ganda dengan Dua Variabel Dependen: Model hubungan variabel ganda dengan satu variabel independen dan dua dependen.
  6. Model Hubungan Variabel Ganda dengan Dua Variabel dan Dua Dependen: Dalam model ini terdapat dua variabel independen dan dua variabel dependen. Tersedia 4 rumusan masalah deskriptif, dan enam rumusan masalah hubungan sederhana. Kolerasi dan regresi ganda juga dapat digunakan untuk menganalisis hubungan antar variabel secara simultan.
  7. Paradigma Jalur (Hubungan Variabel Jalur): Dinamakan paradigma jalur karena terdapat variabel yang berfungsi sebagai jalur antara. Dengan adanya variabel antara ini, akan dapat digunakan untuk melihat apakah untuk mencapai target akhir harus melewati variabel antara itu atau bisa langsung ke sasaran akhir.


F. Menentukan Masalah

 Pada semua nyata manusia memiliki masalah. Dan menemukan masalah masalah hal mudah. Oleh karena itu jika penelitian telah ditemukan, maka pekerjaan peneliti selesai 50%. Untuk menemukan masalah dapat dengan analisis masalah, yaitu dengan pohon masalah. Dengan pohon masalah suatu permasalahan dapat diketahui mana masalah yang penting, yang tidak penting dan tidak penting. Melalui ini dapat diketahui akar-akar permasalahannya.


Daftar Pustaka

Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Kamis, 17 Desember 2020

Perbedaan, Kelebihan dan Kelemahan dari Saham dan Derivatif

Assalamu'alaikum teman-teman..

Selamat datang diblog aku, di blog sebelumnya aku sudah membahas tentang pasar modal, kemudian aku sudah meriview buku tentang pasar modal, nah kali ini aku mau menjelaskan tentang "Perbedaan, Kelebihan dan Kelemahan dari Saham dan Derivatif"

Yuk disimak teman teman, semoga ini bisa membantu kalian yaa..

A. Perbedaan Saham Dan Derivatif

Saham merupakan salah satu jenis surat berharga yang menunjukkan kepemilikan atas perusahaan. sedangkan derivatif merupakan kontrak bilateral yang digunakan oleh manajer investasi atau lembaga keuangan serta para investor untuk melihat posisi pergerakan saham.


Derivatif merupakan kontrak atau perjanjian yang nilai atau peluang keuntungannya terkait dengan kinerja aset lain. Aset lain ini disebut sebagai underlying assets. Efek derivatif merupakan Efek turunan dari Efek “utama” baik yang bersifat penyertaan maupun utang. Efek turunan dapat berarti turunan langsung dari Efek “utama” maupun turunan selanjutnya.


Dalam pengertian yang lebih khusus, derivatif merupakan kontrak finansial antara 2 (dua) atau lebih pihak-pihak guna memenuhi janji untuk membeli atau menjual assets/commodities yang dijadikan sebagai obyek yang diperdagangkan pada waktu dan harga yang merupakan kesepakatan bersama antara pihak penjual dan pihak pembeli. Adapun nilai di masa mendatang dari obyek yang diperdagangkan tersebut sangat dipengaruhi oleh instrumen induknya yang ada di spot market.

Efek derivatif merupakan efek turunan dari efek utama, Derivatif ini merupakan perjanian yang nilai keuntungannya terkait dengan niali aset lainnya.

Secara umum instrumen derivatif ini dibagi menjadi 2 yaitu :

  1. Opsi atau kontrak berjangka yang merupakan kontrak dimana salah satu pihaknya menyetujui untuk membayar hak pihak lain.
  2. Swap merupakan suatu perjanjian transaksi pertukaran 2 valuta asing melalui pembelian ataupun penjualan dilakukaan secara berjangka dan simultan, sesuai dengan kurs pada hari terjadinya transaksi.

Adapun instrumen-instrumen derivatif lainnya adalah :

  1. Kontrak Opsi Saham
  2. Kontrak berjangkan Indeks (LQ 45 futures)
  3. Mini LQ Futures
  4. LQ 45 Futures periodik
  5. Spesifik kontrak JP Futures

Kontrak derivatif ini juga dapat diperjual belikan diluar bursa saham maupun tanpa menggunakan pialang, jadi transaksi langsung dilakukan oleh pihak penjual dan pihak pembeli secara langsung tanpa adanya perantara.


B. Kelebihan dan Kekurangan Investasi Saham

Kelebihan Investasi Saham:

  1. Memberikan potensi return yang tinggi dan berkesinambungan.
  2. Sangat likuid, saat anda ingin menjualnya, pembeli tersedia. (hal ini dikarenakan Saham memiliki bursa tersendiri yakni Bursa Efek Indonesia yang mempertemukan pihak penjual dan pembeli).
  3. Tidak memerlukan rekruitmen karyawan baru
  4. Tidak memerlukan perawatan
  5. Tidak perlu membayar pajak selama memilikinya
  6. Nilai saham dapat dipantau dengan mudah di media – media cetak maupun visual.

Kekurangan Investasi Saham:

  1. Potensi return yang tinggi pada saham kadang juga diiringi potensi rugi yang besar akibat salah pilih saham.
  2. Karena sangat likuid, kadangkala menjadikannya terlalu fluktuatif sehingga saat kita mau menjual harganya tidak sesuai ekspektasi.
  3. Tidak memerlukan pegawai, artinya anda sendiri yang memantau investasi saham anda. Kadangkala investor melupakan investasinya karena sibuk pada urusan lain sehingga investasinya terbengkalai.
  4. Karena harga saham sangat mudah dipantau, kadangkala mempengaruhi psikologis investor untuk bertindak irasional, terlalu optimis, kadang emosional, dan panik. Bandingkan jika seseorang memiliki tanah untuk investasi, karena harga pasaran sulit diketahui, investor tanah tersebut tidak tahu perubahan harga secara harian.


C. Kelebihan Dan Kekurangan Derivatif

Dibawah ini merupakan beberapa manfaat dari Derivatif, diantaranya sebagai berikut :

1. Sebagai instrumen untuk memindahkan resiko ke pihak lain

Manfaat pertama dari derivatif ini ialah sebagai instrumen untuk dapat memindahkan resiko ke pihak lain. Sebagai contoh seorang petani jagung dapat menjual kontrak berjangka untuk hasil panen pada spekulator walaupun belum waktunya itu melakukan panen. Petani tersebut akan mendapatkan perlindungan resiko dari pergerakan naik turun nya harga jagung.

Sedangkan pihak spekulator siap untuk menerima resiko tersebut dengan harapan bisa mendapat keuntungan apabila harga jual jagung mengalami kenaikan serta juga sebaliknya apabila mengalami kerugian itu pada saat harga jual jagung menurun.


2. Sebagai sebuah aksi untuk mengambil keuntungan

Manfaat kedua dari derivatif ini ialah sebagai sebuah aksi untuk dapat mengambil keuntungan dengan memanfaatkan sebuah perbedaan nilai suatu aset acuan serta juga nilai satu aset lainnya.

Contohnya ialah mengambil keuntungan dari perbedaan harga indeks LQ-45 (ILQ-45) di Bursa Efek Lampung serta juga harga ILQ-45 di Bursa Efek Medan (future market).

Selasa, 15 Desember 2020

Tips Memulai Berinvestasi Bagi Kaum Milenial

Assalamu'alaikum temen-temen..

Selamat datang diblog aku, di blog sebelumnya aku sudah membahas tentang pasar modal, kemudian aku sudah meriview buku tentang pasar modal, nah kali ini aku mau menjelaskan tentang "Tips Memulai Berinvestasi Bagi Kaum Milenial "

Yuk disimak teman teman, semoga ini bisa membantu kalian yaa..

Tantangan untuk Anak Muda Milenial yang Ingin Berinvestasi

     Tantangan utama anak muda di usia 20an untuk masalah keuangan adalah bagaimana mereka mengeluarkannya untuk spending pengalaman baru, dibandingkan saving untuk keperluan jangka panjang.

Usia 20an adalah usia transisi dari remaja ke dewasa, dimana kamu punya otoritas penuh terhadap diri sendiri, punya pekerjaan dan bisa menafkahi diri sendiri, belum ada tanggungan atau cicilan dan mau menikmati hasil usaha kerja dengan senang-senang serta membeli pengalaman baru.

Salah? Nggak dong…

Tapi jangan lupa kalau keuangan yang matang dan mapan itu perlu perencanaan sejak dini. Pemenuhan gaya hidup adalah faktor utama yang menjadikan generasi muda masih kesulitan dalam mengatur keuangan.

Memenuhi gaya hidup nggak ada habisnya, Dream Warriors. Jangan jadikan konsep "You Only Live Once" sebagai pembenaran terhadap gaya hidup konsumtif.

Kamu harus memikirkan masa depan dan kejar mimpi punya perencanaan keuangan yang mapan.

Aku sudah buat perencanaan keuangan dan menyisakan pemasukkanku buat tabungan di bank. Berarti sudah bisa dibilang berinvestasi kan?"

Menabung tidak sama dengan investasi dan masih banyak yang salah kaprah tentang hal ini. 

   Banyak milenial yang menyisihkan gaji nya untuk ditabung dengan berbagai tujuan, baik untuk menikah, beli rumah, modal usaha ataupun untuk keperluan mendadak.

Memiliki tabungan di bank sebenarnya bukanlah ide baik, karena rentan terhadap kerugian. Salah satunya adalah dikenakan biaya administrasi yang tinggi dan juga kemungkinan inflasi.

Memulai berinvestasi di usia muda menjadi pilihan alternatif yang menjanjikan. Sayangnya, minimnya pengetahuan tentang investasi membuat banyak kaum milenial ragu-ragu untuk memulai investasi.

Banyak orang yang belum berani memulai investasi karena berbagai alasan. Mulai dari takut kehilangan dana, investasi bodong, dan enggan membayangkan kerumitan investasi.


Tips Yang Harus Dilakukan Sebelum Memulai Berinvestasi

Berikut adalah beberapa tips yang harus diperhatikan, sebelum memulai investasi:

  • Langkah pertama berinvestasi adalah dengan mulai mencari informasi, membandingkan satu instrument investasi dnegan instrument investasi lainnya.
  • Jangan memulai investasi dalam keadaan buta sama sekali. Baik itu sudah dialami teman atau kerabat, atau ada tawaran investasi muncul selalu cari tahu seluk beluknya sebelum memutuskannya.
  • Pantau terus jalannya uang dalam investasi, pastikan selalu mendapatkan kontak langsung dengan perkembangan investasi sehingga bisa melakukan antisipasi jika keadaan berubah buruk, atau melakukan sesuatu jika keadaan menguntungkan. 
  • Miliki perencanaan yang terhadap dana yang ditaruh untuk investasi berkaitan dengan tenor atau jatuh tempo. Apakah investasi tersebut hanya akan ditarik atau dilanjutkan, rancang lah segala sesuatunya dengan matang.


Kenapa Anak Muda Harus Berinvestasi?

  • Menciptakan sumber keuangan baru, Berinvestasi memberikan kamu kesempatan untuk menambah nilai atas uang kamu. Ketika dana investasi kamu menghasilkan bunga, bunga itulah yang menjadi keuntungan kamu. Beda halnya dengan menabung, dimana uang kamu hanya akan diam di bank dan tidak menambah nilai
  • Kamu bisa kejar mimpi, Mimpi punya rumah? Memulai bisnis sendiri? Investasi bisa membantu kamu untuk mewujudkan tujuan mimpi kamu.
  • Kamu membuat uang bekerja untuk kamu, bukan sebaliknya, Dana yang kamu investasikan akan menghasilkan uang tambahan dari bunga yang dihasilkan. Dari tambahan pemasukkan tersebut, kamu bisa “menikmati” hidup melakukan hal yang kamu inginkan, misalnya traveling, melanjutkan pendidikan atau modal membangun bisnis.
  • Menyiapkan masa tua, Akan ada waktunya kamu harus pensiun dan berhenti dari dunia kerja. Tentunya kamu harus mempersiapkan sumber pendapatan ketika kamu sudah nggak produktif lagi. Kalau kamu melakukan investasi dari muda, dana investasi dan keuntungannya bisa kamu nikmati ketika kamu pensiun nanti. Nilai uang kamu akan terus bertambah seiring berjalannya waktu.
Pesanku:

"Berinvestasilah sedini mungkin, berinvestasi tak terpaut umur, berinvestasi juga tak terpaut kecerdasan IQ anda. Jangan tunggu kaya baru berinvestasi, karena berinvestasi itu untuk kaya! Ayo segerakan berinvestasi. Saatnya bertindak! Kita harus bergerak maju dan berada jauh didepan" -Anjami Nadila

Terimakasih dan semoga ini bermanfaat untuk kalian semua, aamiin

Rabu, 09 Desember 2020

Quis Akuntansi Keuangan Lanjutan I - 5A Akuntansi

Assalamualaikum Wr.Wb...

Selamat datang diblog saya, selamat membaca dan semoga ini bermanfaat yaa..

Soal Quis

PT Maha karya yang berkedudukan di Surabaya dengan spesifikasi usaha dibidang perdagangan barang-barang elektronik. Melakukan kerjasama konsinyasi dengan PT ELG Elektronik khusus untuk penjualan pesawat TV dengan perjanjian sebagai berikut :

  1. Harga jual TV Rp 500.000 per unit dan harga pokoknya adalah Rp 350.000 per unit.
  2. Komisi untuk PT Maha karya adalah sebesar 15% dari hasil penjualan.
  3. PT Maha karya memungut sewa atas barang konsinyasi sebesar Rp500 per unit.
  4. Semua beban yang dikeluarkan PT Maha karya ditanggung oleh PT ELG Elektronik seperti ongkos angkut, kuli dll.
  5. PT Maha karya menyerahkan uang muka sebesar 20% dari harga jual barang yang dikirim.

Adapun transaksi bulan Januari 2009:

  1. Pengiriman dan penerimaan barang konsinyasi 100 unit.
  2. Penerimaan dan pengiriman uang muka sebesar 20% dari harga jual.
  3. PT ELG Elektronik mengeluarkan ongkos angkut untuk pengiriman barang ke PT Maha karya secara tunai sebesar Rp 60.000.
  4. Pembayaran sewa atas barang-barang konsinyasi yang dikirim, diterima secara tunai oleh PT Mahakarya.
  5. Penjualan barang konsinyasi selama bulan Januari 2009 yang terdiri atas:

Penjualan tunai = 80 unit  dan penjualan kredit = 20 unit.

  1. Pengeluaran buku kas PT Maha karya adalah :
  • Ongkos kuli masuk = Rp30.000
  • Ongkos kuli keluar = Rp20.000
  • Ongkos angkut        = Rp75.000
  1. Pencatatan komisi oleh PT Maha karya
  2. Pengiriman dan penerimaan laporan penjualan barang konsinyasi serta pengiriman uang setelah di-perhitungkan uang muka.

Diminta:

Buat jurnal yang diperlukan untuk transaksi diatas pada buku pengamanat dengan metode

  1. Dicatat secara terpisah dengan penjualan reguler, dan
  2. Dicatat tidak terpisah dengan penjualan reguler. Perusahaan menggunakan pencatatan persediaan perpetual
Jawab:
1. Dicatat secara terpisah

1

Pengiriman barang konsinyasi 100 unit TV kepada PT Maha karya @ 350.000

Konsinyasi keluar    Rp 35.000.000

        Persediaan BD                          Rp 35.000.000

2

Penerimaan uang muka 20% dari harga .jual barang yang dikirim

Kas                                Rp     100.000

         Uang muka komisioner          Rp     100.000

3

Mencatat pengeluaran ongkos angkut

Konsinyasi Keluar      Rp       60.000

         Kas                                              Rp       60.000

4

Mencatat sewa gudang komisioner 100 unit @ Rp 500

Konsinyasi Keluar       Rp      50.000

          Kas                                             Rp       50.000

5

Tidak ada jurnal

6

Tidak ada jurnal

7

Tidak ada jurnal

8

Mencatat laporan penjualan barang konsinyasi dan penerimaan uang

Kas                                  Rp 32.375.000

Uang muka komisioner    10.000.000

Konsinyasi keluar                7.625.000

        Konsinyasi keluar                    Rp 50.000.000

9

Mencatat laba penjualan konsinyasi

Konsinyasi keluar        Rp   7.265.000

       Laba/rugi penj. konsinyasi      Rp  7.265.000

 

 































2. Dicatat secara tidak terpisah (gabungan)

1

Tidak ada jurnal (Memorandum)

2

Kas                                            Rp  100.000

Uang muka komisioner                         Rp  100.000

3

Ongkos angkut masuk     Rp     60.000

Kas                                                            Rp     60.000

4

Beban sewa                            Rp     50.000

Kas                                                             Rp    50.000

5

Tidak ada jurnal

6

Tidak ada jurnal

7

Tidak ada jurnal

8

 Kas                                        Rp 32.375.000

Uang muka komisioner     Rp 10.000.000

Beban kuli                            Rp        50.000

Ongkos angkut keluar       Rp         75.000

Beban komisi                      Rp    7.500.000

Penjualan                                             Rp 50.000.000

9

Mencatat HPP barang konsinyasi

HPP                                        Rp 35.000.000

Persediaan BD                                     Rp 35.000.000

10

   HPP                                     Rp         60.000

Ongkos angkut masuk                       Rp         60.000

 

Senin, 07 Desember 2020

Risk and Return

Assalamualaikum teman-teman..

Selamat datang diblog aku, di blog sebelumnya aku sudah membahas tentang pasar modal, kemudian aku sudah meriview buku tentang pasar modal, nah kali ini aku mau menjelaskan tentang "Risk and Return"

Yuk disimak teman teman, semoga ini bisa membantu kalian yaa..

Definisi Umum Retur dan Risk dalam Investasi

Investasi dalam arti luas, berarti mengorbankan uang sekarang untuk uang di masa depan yang akan diperoleh. Ada 2 (dua) hal yang tidak dapat terpisahkan dari investasi yaitu tingkat pcngendalian atau resiko yang mungkin akan dihadapi. Penting bagi seseorang atau instansi yang akan berinvestasi untuk memperhitungkan atau mcmpertimbangkan tingkat pengembalian yang akan diperoleh dari investasi tersebut apakah mengtungkan atau merugikan dan mcmperkirakan risiko-risiko apa saja yang akan dihadapi, sehingga risiko-risiko tersebut dapat dihindari atau dihadapi, sehingga dapat membantu para calon invesstor yang akan berinvestasi agar dapat membuat keputusan yang mcnguntungkan.

Investasi adalah menempatkan uang atau dana dengan harapan untuk memperoleh tambahan atau keuntungan tertentu atas uang atau dana tcrsebut.

Tujuan investasi adalah:

  1. Mendapatkan kehidupan yang lebih layak dimasa yang akan datang.
  2. Mengurangi tekananinflasi.
  3. Dorongan untuk menghemat pajak.
  4. Seseorang melakukan investasi cenderung untuk menghindari dari kemungkinan menanggungg resiko dan mendapatkan pengembalian (keuntungan) setinggi mungkin. Risk dan return adalah kondisi yang dialami perusahaan, institusi, dan individu dalam keputusan investasi yaitu baik kerugian maupun keuntungan dalam suatu periode akuntansi.

Hubungan antara resiko dan tingkat pengembalian adalah:

  1. Bersifat linear atau search.
  2. Semakin tinggi tingkat pengembalian maka semakin tinggi pula resiko.
  3. Semakin besar aset yang kita tempatkan dalam keputusan investasi maka semakin besar pula resiko yang timbul dari investasi tersebut.
  4. Kondisi linear hanya mungkin terjadi pada pasar yang bersifat normal.


A. Return (Tingkat Pengembalian)

Definisi Tingkat pengembalian

Return atau pengembalian adalah keuntungan yang diperoleh perusahaan, individu dan institusi dari hasil kebijakan investasi yang dilakukan. Beberapa pengertian return yang lain:

  • Return on equity atau imbal hasil atas ekuitas merupakan pendapatan bersih dibagi ekuitas pemegang saham.
  • Return of capital atau imbal hasil atas modal merupakan pembayaran kas yang tidak kena pajak kepada pemegang saham yang mewakili imbal hasil modal yang diinvestasikan dan bukan distribusi deviden. Investor mengurangi biaya investasi dengan jumlah pembayaran.
  • Return on investment atau imbal hasil atas investasi merupakan membagi pendapatan sebelum pajak terhadap investasi untuk memperoleh angka yang mencerminkan hubungan antara investasi dan laba.
  • Return on invested capital atau imbal hasil atas modal investasi merupakan pendapatan bersih dan pengeluaran bunga perusahaan dibagi total kapitalisasi perusahaan
  • Return realisasi merupakan return yang telah terjadi.
  • Return on network atau imbal hasil atas kekayaan bersih merupakan pemegang saham yang dapat menentukan imbal hasilnya dengan membandingkan laba bersih setelah pajak dengan kekayaan bersihnya.
  • Return on sales atau imbal hasil atas penjualannya merupakan untuk menentukan efisiensi operasi perusahaan, seseorang dapat membandingkan presentase penjualan bersihnya yang mencerminkan laba sebelum pajak terhadap variabel yang sama dari periode sebelumnya.
  • Return ekspektasi merupakan return yang diharapkan akan diperoleh oleh investor di masa mendatang.
  • Total return merupakan return keseluruhan dari suatu investasi dalam suatu periode tertentu.


Jenis-jenis Tingkat Pengembalian

  • Return Realisasi (realized return), Return realisasi adalah return yang telah terjadi yang dihitung menggunakan data historis.
  • Return Ekspektasi (expectation return), Return ekspektasi adalah return yang diharapkan akan diperoleh oleh investor di masa mendatang.

Seorang investor akan mengharapkan return tertentu dimana yang akan datang tapi jika investasi dilakukan telah selesai maka investor akan mendapat return realisasi yang telah dilakukan.


B. Risk (Resiko)

Definisi Resiko

Risiko dapat dikatakan sebagai suatu peluang terjadinya kerugian atau kehancuran. Lebih luas. risiko dapat diartikan sebagai kemungkinan terjadinya hasil yang tidak diinginkan atau berlawanan dari yang diinginkan. Dalam industri keuangan pada umumnya. terdapat suatu jargon "high risk bring about high return",artinya jika ingin memperolch hasil yang lebih besar, akan dihadapkan pada risiko yang lebih besar pula.Menurut Ricky W. Griffin dan Ronald Ebert Risiko adalah uncertainty about future event. 

Adapun Joel G.Siegel dan Jae K.Sim mendefinisikan risiko pada 3 hal:

  1. Keadaan yang mengarah kepada sekumpulan hasil khusus dimana hasilnya dapat diperoleh dengan kemungkinan yang telah diketahui oleh pengambilan keputusan. Variasi dalam keuntungan penjualan atau variabel keuangan lainnya.
  2. Kemungkinan dari sebuah masalah keuangan yang mempengaruhi kinerja operasi perusahaan atau posisi.
  3. Kemungkinan dari sebuah masalah keuangan yang mempengaruhi kinerja operasi perusahaan atau posisi keuangan.

Resiko investasi dapat juga diartikan sebagai kemungkinan terjadinya perbedaan antara actual return dan expected return, sehingga setiap investor dalam mengambil keputusan investasi harus selalu berusaha meminimalisasi berbagai risiko yang timbul, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Setiap perubahan kondisi ekonomi baik mikro ataupun makro akan mendorong investor untuk melakukan strategi yang harus diterapkan untuk tetap memperoleh return.


Sumber-sumber Utama Resiko

Risiko Bisnis Yaitu derajat ketidakpastian dari hasil suatu investasi dan kemampuan untuk membayar investor berupa bunga, dividen, sewa dan hasil lainnya, karena maju mundurnya suatu perusahaan atau kekayaan dimana investor memiliki investasi.

  • Risiko Finansial. Yaitu risiko yang berhubungan dengan kombinasi pembelanjaan hutang & penyertaan untuk membelanjai suatu perusahaan atau kekayaan, makin besar proporsi hutangnya makin besar risikonya, karena pembayaran bunga & pengembalian hutang merupakan kewajiban tetap & diprioritskan.
  • Risiko Daya Beli (Inflasi). Yaitu kemungkinan perubahan tingkat harga-harga dimana investasi yang nilainya paralel dengan tingkat harga (saham, properti) akan menguntungkan pada periode kenaikan harga sedang investasi yang memberi hasil tetap (tabungan, obligasi) akan disenangi pada periode penurunan tingkat harga.
  • Risiko Suku Bunga. Yaitu risiko perubahan suku bunga umum yang mempengaruhi harga surat berharga terutama yang memberi penghasilan tetap (obligasi), dalam hal ini, harga obligasi turun jika suku bunga naik untuk memberikan pembelian tingkat hasil yang sama pada harga pasar yang berlaku, sebaliknya harga obligasi naik jika suku bunga turun agar hasilnya turun sebagai akibat kenaikan harga pasar itu.
  • Risiko Likuiditas. Yaitu risiko sulitnya likuidasi suatu investasi dengan mudah pada harga yang layak.Risiko Pasar. Yaitu risiko yang yang ditimbulkan oleh faktor-faktor yang tidak tergantung dari wahana investasi, seperti politik, ekonomi, sosial, selera & preferensi investor, pengaruh setiap faktor terhadap masing-masing jenis wahana investasi tidak sama.
  • Risiko Negara. Yaitu risiko yang berhubungan dengan keadaan politik, ekonomi, stabilitas dan viabilitas suatu negara


Alternatif- Alternatif Menghindari Resiko

Untuk menghindari resiko yang timbul terhadap aktivitas investasi yang dilakukan, perlu dilakukan alternatif-alternatif dalam pengambilan keputusan. Alternatif keputusan yang diambil adalah dianggap realistis dan tidak akan menimbulkan masalah nantinya Tindakan seperti ini dianggap sebagai bagian strategi investasi. Bahwa berbagai keputusan-keputusan strategis akan menghasilkan nilai yang lebih besar bagi perusahaan. Dimana tindak lanjut dari keputusan strategis ini adalah dengan melibatkan secara maksimal sumber daya yang ada untuk mengimplementasikan keputusan yang dimaksud dan menentukan pihak-pihak yang bertanggung jawab atas implementasi ini. Artinya adalah resiko yang timbul merupakan bentuk dari realita yang terjadi, yang mana resiko itu selalu saja sulit untuk dihindari namun diusahakan resiko itu terjadi dalam jumlah yang sangat minim


Tipe-tipe Resiko

a. Systematic Risk ( Risiko Sistematis)

Risiko sistematis disebut juga dengan market risk atau resiko umum. Risiko sistematis adalah resiko yang bisa didiversifikasikan atau resiko yang sifatnya mempengaruhi secara menyeluruh, Contohnya krisis moneter pada tahun 1997 di indonesia yang telah menyebabkan banyak sekali perusahaan yang bangkrut dan meningkatnya angka pengangguran. Selain itu terjadi pula pada tahun 2008 yaitu saat dunia dilanda krisis finansial yang salah satunya disebabkan oleh kredit subprime mortgage di amerika serikat (tahun 2008) yang sudah terlalu tinggi, dan ternyata tidak bisa di atasi lagi. Contoh lain nya adalah: peraturan pemerintah, kenaikan pajak, resesi, evaluasi, dan sebagainya. 

Resiko ini terjadi karena adanya kejadian diluar kegiatan perusahaan, seperti:

  1. Resiko inflasi, inflasi akan mengurangi daya beli uang sehingga tingkat pengembalian setelah disesuaikan dengan inflasi dapat menurunkan hasil dari inflasi tersebut.
  2. Resiko nilai tukar mata uang (kurs). Perubahan nilai investasi yang disebabkan oleh nilai tukar mata uang asing menjadi resiko dalam investasi.
  3. Resiko tingkat suku bunga, jika suku bunga naik maka return investasi yang terkait dengan suku bunga, misalnya suku bunga Sertifikat Bank Indonesia akan naik ini dapat menarik minat investor saham untuk meindahkan dana ke Sertifikat Bank Indonesia. sehingga banyak yang menjual saham dan harga saham akan turun oleh karena itu perubahan suku bunga akan mempengaruhi variabilitas return suatu investasi.

Systematic risk disebut juga undiversible risk karena resiko ini tidak dapat dihilangkan atau diperkecil melalui pembentukan portofolio.


b. Unsystematic Risk (Resiko Tidak Sistematis)

Unsystematic risk disebut juga dengan resiko spesifik atau resiko yang dapat didiversifikasikan. Resiko yang tidak sistematis yaitu hanya dapat membawa dampak pada perusahaan yang terkait saja. Jika suatu perusahaan mengalami unsystematic risk maka kemampuan untuk mengatasinya masih akan bisa dilakukan, karena perusahaan bisa menerapkan berbagai strategi untuk mengatasinya. Contohnya jika harga sekuritas perusahaan jatuh, maka perusahaan menerapkan berbagai strategi investasi. Contoh lainnya adalah pemogokkan buruh, perubahan manajemen, inovasi, kebakaran dan sebagainya.


c. Total Risk

Total risk adalah gabungan atau penjumlahan antara systematic dan unsystematic risk. Rumus menghitung total resiko:

Total Risk = System Risk + Unsystematic Risk


Mengelola Resiko

Dalam aktivitas yang namanya resiko adalah pasti terjadi dan sulit untuk dihindari sehngga bagi sebuah lembaga bisnis seperti perbankan sangat penting untuk memikirkan bagaimana mengelola resiko tersebut. Dalam mengelola risiko tersebut pada dasarnya ada 2 cara yaitu:

  1. Memperkecil resiko, dengan cara tidak memperbesar setiap keputusan yang mengandung resiko tinggi tapi membatsainya bahkan meminimalisirnya agar resiko tersebut tidak merambah menjadi besar dan menjadi tidak terkendali.
  2. Mengalihkan risiko, dengan cara tidak mengalihkan resiko yang kita terima ketempat lain seperti mengasuransikan bisnis juga menghindari terjadinya resiko yang sifatnya tidak tentu waktunya.


C. Hubungan Antara Risk dan Return

Secara teknis, semakin tinggi tingkat pengembalian yang diharapkan dalam investasi (expected return), maka risk yang dihadapi investor juga semakin tinggi dan berlaku sebaliknya. Hubungan risk and return adalah linier dan searah. Grafik Security Market Line berikut menjelaskan hubungan risk and return dalam investasi dipasar modal.

Grafik Security Market Line (SML) di atas menunjukkan bahwa adanya hubungan positif antara risk and return. yang mana risk ditunjukkan oleh E(Rp) atau expected return portfolio pada sumbu Y dan risk ditunjukkan oleh βp atau Beta portofolio pada sumbu X.

Sementara itu, Rf­ merupakan tingkat keuntungan investasi pada aset bebas risiko dengan risiko sebesar nol (0). E(Rm) atau expected return market merupakan tingkat keuntungan pasar saham.

Sedangkan βm atau Beta pasar merupakan risiko pasar yang bernilai 1. Perhatikanlah garis Security Market Line (SML) yang dimulai dari titik R­f­ dan menuju pada pertemuan titik E(R­m) dan titik βm yang merupakan tingkat keuntungan pasar saham (diukur menggunakan indeks pasar seperti IHSG, LQ-45, JII, dll).

Dari penjelasan tersebut, maka kesimpulan bahwa risk and return berhubungan linear memang benar. Perhatikan garis SML, semakin meningkat E(Rp) maka βp juga semakin meningkat.


Referensi:

Sari, Enggar Purnama. 2020. Risk dan Return Pasar Modal. Diakses 7 Desember 2020 dari enggarpurnamasari14.blogspot.com: https://enggarpurnamasari14.blogspot.com/2020/10/risk-dan-return.html.

Perilaku Investor

Assalamualaikum teman-teman..

Selamat datang diblog aku, di blog sebelumnya aku sudah membahas tentang pasar modal, kemudian aku sudah meriview buku tentang pasar modal, nah kali ini aku mau menjelaskan tentang "Perilaku Investor"

Yuk disimak teman teman, semoga ini bisa membantu kalian yaa..

Pengertian Perilaku Investor

Perilaku manusia adalah sekumpulan perilaku yang dimiliki oleh manusia dan dipengaruhi oleh adat, sikap, emosi, nilai, etika, kekuasaan, persuasi, dan/atau genetika. Perilaku seseorang dikelompokkan ke dalam perilaku wajar, perilaku dapat diterima, perilaku aneh, dan perilaku menyimpang.

Investor adalah orang perorangan atau lembaga baik domestik atau non domestik yang melakukan suatu investasi (bentuk penanaman modal sesuai dengan jenis investasi yang dipilihnya) baik dalam jangka pendek atau jangka panjang. Terkadang istilah "investor" ini juga digunakan untuk menyebutkan seseorang yang melakukan pembelian properti, mata uang, komoditi, derivatif, saham perusahaan, ataupun aset lainnya dengan suatu tujuan untuk memperoleh keuntungan dan bukan merupakan profesinya serta hanya untuk suatu jangka pendek saja.

Setiap perusahaan pastinya ingin mempunyai modal yang besar demi berjalannya perusahaan yang maju, berkembang pesat dan sejahtera. Baik sejahtera karyawannya maupun sejahtera bagi konsumennya. Hal tersebut pasti sangat dipikirkan oleh manajer atau pimpinan di setiap perusahaan bagaimana caranya memiliki modal yang besar untuk kemajuan usahanya. Karena pada dasarnya modal untuk keberlangsungan dalam perusahaan tidak hanya cukup dari pemilik saja (manajer perusahaan).

Maka dari itu dibutuhkan modal tambahan, dari mana perusahaan mendapatkan modal? Selain dari modal awal dan laba, salah satu sumber modal perusahaan yaitu dari investasi. Investasi dilakukan oleh para investor yang ingin menginvestasikan hartanya dengan harapan untuk mendapatkan manfaat dimasa yang akan datang.

Perusahaan harus kreatif, mandiri, berinovasi, mempunyai produk unggulan untuk menarik hati para investor. Sehingga para investor akan berlomba-lomba dalam menginvestasikan hartanya. Disini manajerpun dituntut harus berpikir aktif, kritis, kreatif, inovatif, dan sebagainya.

Ketika investor akan menginvestasikan dananya mereka tidak akan semena-mena langsung berinvestasi, tidak akan langsung tertarik begitu saja dengan berbagai yang ditawarkan oleh perusahaan. Para investor akan melihat terlebih dahulu dampak-dampak atau risiko-risiko yang akan ditimbulkan apabila akan berinvestasi.

Para investor akan mempertimbangkan berbagai hal salah satunya adalah risiko. Risiko didefiniskan dalam kamus Webstr’s sebagai “kecalakaan; bahaya; dihadapkan pada kerugian atau kecelakaan.” Oleh karena itu, risiko mengacu pada peluang bahwa beberapa kejadian yang tidak menguntungkan akan terjadi.

Maka dari itu investor akan bersikap hati-hati dalam mengambil suatu keputusan dalam menyikapi risiko untuk investasi yang lebih baik. Ada tiga sikap investor apabila dihubungkan dengan tingkat risiko yang dapat mereka terima, yaitu pertama tidak senang risiko (risk averse) sikap ini investor tidak senang terhadap risiko. Tentunya, ia memiliki konsekuensi tidak dapat mengharapkan tingkat return yang terlalu tinggi juga. Sikap investor ini biasanya sangat mengutamakan tingkat keamanan investasinya dibandingkan dengan tingkat return yang ditawarkan oleh suatu produk investasi. Dan investor ini masih menggunakan perbankan sebagai saran investasi di SBI atau obligasi pemerintah.

Kedua netral terhadap risiko (risk netral), sikap investor ini adalah investor yang cukup menerima adanya risiko, tetapi tidak akan mau mengambil risiko lebih untuk mencoba mendapatkan tingkat return yang lebih tinggi. Tingkat return yang mereka harapkan biasanya lebih tinggi dari pada investor yang risk averse, dan tentunya mereka juga telah memiliki risiko yang minimal yang dapat diterima. Biasanya, investor ini selain diperbankan juga sudah berani bermain di jenis investasi reksadana; pasar uang; jenis asuransi yang aman, seperti asuransi jiwa, kesehatan, dan umum; maupun obligasi perusahaan pemerintah.

Ketiga menyukai risiko (risk seeker), sikap investor ini biasanya telah mengerti bahwa return yang tinggi akan diikuti dengan tingkat risiko yang tinggi pula. Mereka sudah berani mencoba mengambil kesempatan dan juga berinvestasi pada produk investasi yang memiliki tingkat risiko relatif tinggi. Biasanya investor ini sudah sangat sedikit menginvestasikan dananya ke perbankan. Umumnya, mereka telah membagi investasinya ke reksadana, asuransi, dan juga sudah mulai berani berinvestasi langsung di saham, bursa komoditi, maupun valas.


Pengertian Investor

Pada prinsipnya, dalam setiap kegiatan usaha akan melibatkan dua instrumen yang saling mendukung, mereka adalah pengelola usaha atau perusahaan dan penyedia dana untuk kebutuhan perusahaan. Penyedia dana sering disebut sebagai investor, mereka merupakan pihak yang menempatkan kelebihan dananya (surplus of fund) untuk kegiatan investasi di sektor usaha yang halal dan produktif.

Lebih spesifik lagi bahwa investor merupakan perorangan atau lembaga yang menanamkan dananya pada instrumen keuangan seperti saham, obligasi, dan lain sebagainya.


Perilaku Investor

Perilaku dapat diartikan sebagai kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam semua aktivitas manusia. Kaitannya dalam perilaku investor dapat dijelaskan bahwa perilaku investor merupakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh investor yang secara langsung terlibat dalam proses berinvestasinya


Macam-macam Perilaku Investor 

Gambaran macam-macam perilaku investor di pasar modal yang telah dirumuskan Bailard, Biehl & Kaiser sebagaimana dikutip Hartono, klasifikasi investor yang telah dilakukan lembaga investasi di California mengategorikan 5 macam perilaku investor di pasar modal, kemudian orang mengenal dengan sebutan the Five-Way Model yaitu:

  1. Petualang (Adventurers). Investor yang tergolong pada poin ini umumnya tidak memperdulikan risiko, bahkan cenderung untuk menyukai risiko (Risk Takers). Mereka cenderung untuk tidak memperdulikan nasihat para financial advisors karena berbeda pandangan tentang risiko.
  2. Celebrities, perilaku Kelompok ini selalu ingin tampil, menonjol, dan menjadi pusat perhatian. Mereka seringkali tidak terlalu peduli pada perhitungan untung-rugi investasi, asalkan keputusan mereka untuk membeli atau menjual surat berharga dilihat dan didengar oleh orang banyak. Dan mereka tergolong dalam kecenderungan Risk Takers.
  3. Perilaku individualists. Perilaku ini terdiri dari orang-orang yang cenderung untuk bekerja sendiri dan tidak peduli pada keputusan investasi orang lain (jadi merupakan kebalikan dari perilaku yang cenderung untuk mengikuti arus). Mereka cenderung menghindari risiko yang tinggi dan tidak keberatan untuk menghadapi risiko yang moderat.
  4. Guardians. Pola perilaku investor yang beranggotakan investor “matang”, mereka lebih berpengalaman serta berpengetahuan relatif luas. Cenderung mereka sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi. Ketika mereka didampingi oleh financial advisor, maka pendampingnya itu akan dijadikan teman berdiskusi. Jika ternyata terjadi ”kesalahan” keputusan investasi, kelompok ini cenderung tidak mengkambinghitamkan orang lain, karena merasa telah terlibat langsung dalam proses pemilihan investasi. Mereka yang ada di dalam perilaku kelompok ini pada umumnya lebih bersifat Risk Averse.
  5. Terakhir adalah perilaku kelompok yang tidak dapat secara tegas dimasukkan ke salah satu dari empat kelompok di muka. The Five- Way Model menyebut mereka sebagai kelompok Straight Arrows, yaitu mereka yang tergabung dalam kelompok ini kadang-kadang bersifat sangat Risk Averse, dan terkadang sebaliknya. Suatu ketika mereka mengambil keputusan atas dasar kepercayaan pada kemampuan diri sendiri seperti halnya kelompok individualists, tetapi pada waktu lain lebih menampakkan Sifat Follow The Crowd.


Model Perilaku Investor

Proses investasi menunjukkan bagaimana pemodal (investor) seharusnya melakukan investasi sekuritas, yaitu sekuritas apa yang akan dipilih, seberapa besar dana yang ditanamkan untuk investasi, dan kapan investasi di lakukan. Maka untuk menganalisis kejelasan investasi maka diperlukan pemodelan terhadap perilaku investor dalam berinvestasi.

Beberapa komponen yang mempengaruhi keuntungan yang diharapkan dari investasi dapat digolongkan menjadi dua faktor, pertama faktor obyektif dan kedua faktor subyektif. Faktor obyektif meliputi teknologi, harga relatif faktor produksi, dan permintaan akan barang-barang pada masa akan datang, sedangkan faktor subyektif adalah pengalaman yang dialami investor baik positif maupun negatif karena bersikap paradoksial.

Ketidakpastian dunia telah menciptakan rel tentang aturan yang disebut Rule Of Thumb (aturan main yang berdasarkan pengalaman dan intuisi)26 sering kali berguna sebagai pedoman, karena masa depan dapat diperoyeksi sama dengan hari kemarin. Maka dari itu, investor tidak bisa selamanya menggunakan aturan ini untuk memperoleh keuntungan dimasa yang akan datang, sehingga penentuan objektifitas dan subjektifitas tidak dapat dinafikan.

Faktor penting dalam menentukan pilihan investasi pada instrumen obligasi dilihat dari sisi risiko menurut Rahman adalah:

  1. Default Risk (Risiko gagal bayar). Kesulitan penerbit untuk membayar kupon obligasi, sederhanyanya, penerbitan obligasi digunakan untuk menghasilkan arus kas yang lebih baik bagi penerbit. Namun, jika terjadi situasi yang berlawanan, pembayaran kupon pemodal akhirnya terkena dampaknya. Selain tidak mendapatkan kupon, nilai obligasi dimana penerbitnya gagal memenuhi kewajibannya akan berdampak langsung pada harga obligasi yang menurun tajam di pasar sekunder.
  2. Tingkat Suku Bunga. Adanya sifat korelasi antara obligasi dengan tingkat suku bunga. Ketika suku bunga naik, harga obligasi akan turun, demikian sebaliknya. Oleh karena itu, tingkat suku bunga selalu berlawanan dengan harga obligasi.
  3. Risiko Pembelian Kembali (Call Risk). Risiko obligasi ini ditimbulkan karena fitur obligasi yang berjenis feature call, kebiasaan penerbit melakukannya ketika suku bunga turun sehingga lebih rendah dari tingkat pembayaran kupon. Kemudian penerbit akan menggantikan obligasi tersebut dengan kupon yang lebih rendah dari obligasi sebelumnya.
  4. Biaya Investasi. Inilah sebagian alasan investasi obligasi tidak menjadi pilihan utama. Hal ini didasarkan harga investasi obligasi relatif lebih tinggi dibandingkan dengan investasi sekuritas yang lain. Disatu sisi satuan jual beli instrumen ini cukup besar.
  5. Pengaruh Deposito. Deposito dan obligasi memiliki banyak kemiripan. Itulah sebabnya instrumen ini memiliki sifat kompetitif. Dimana bisa dilihat ketika bunga obligasi lebih tinggi dari bunga deposito, maka pemodal melepas deposito dan memindahnya ke obligasi. Begitu juga sebaliknya.
  6. Risiko Likuiditas. Obligasi tidak semuanya menarik investor untuk membelinya, karena ketika obligasi itu ada masalah atau pasar masih belum paham dengan keberadaan obligasi, maka pemodal mengalami kesulitan untuk melikuidnya menjadi dana. Sehingga bisa timbul aksi jual yang sengaja menekan harga di bawah par.
  7. Inflasi. Bunga dan nilai par obligasi yang sifatnya tetap dalam jangka waktu lama, bagi investor obligasi keadaan ini harus disikapi dengan pandai untuk mengonversinya dengan tingkat inflasi. Karena perubahan inflasi yang cenderung naik, mengakibatkan kupon yang diterima investor tidak memberikan hasil di masa yang akan datang.


Referensi:

Hutabarat, Nelly. 2020. Makala tentang Perilaku Investor. Diakses 7 Desember 2020 dari nellyimelda.blogspot.com: https://nellyimelda.blogspot.com/2020/10/makala-tentang-perilaku-investor.html.